The Acceleration

Dari pikiran ke tindakan

Posted by: Bachtiar STUM on: December 28, 2008

Tulisan ini merupakan tulisan pengantar diskusi pelantikan Anggota Baru.

itb-humanioralambang institut sosial humaniora tiang bendera itb

oleh: Manganju Luhut Tambunan.


Dari Pikiran Ke Tindakan. Manusia Dan Kemanusiaannya!

Ini Indonesia Bung…!


Jika tiap-tiap orang Indonesia yang 70 juta ini lebih dulu harus merdeka di dalam atinya, sebelum kita dapat mencapai political independence,
saya ulangi lagi, sampai lebur kiamat kita belum dapat Indonesia merdeka!
(pidato Ir. Soekarno dalam sidang BPUPKI, 1 Juni 1945).

 

Kalau saja Soekarno masih hidup hari ini, mungkin beliau akan kembali berpikir bahwa kemerdekaan mentalitas ternyata mempunyai nilai yang sama pentingnya dengan kemerdekaan secara fisik. Kemerdekaan mentalitas dapat harus dibangun melalui institusi pendidikan. Namun kenyataan menunjukan bahwa, 63 tahun ternyata bukan waktu yang cukup untuk mendidik manusia indonesia “menjadi manusia yang merdeka”.


Sejarah mencatat kita sebagai bangsa yang besar. Sepanjang sejarah umat manusia terjadi pasang surut peradaban. Suatu peradaban mampu berkembang dengan pesat, beradaptasi dan mempengaruhi kehidupan manusia. Namun banyak juga peradaban yang hilang ditelan bumi dan terkubur di dalam pasir-pasir masa.
Mereka tidak lagi relevan dan berguna dalam dengan kehidupan manusia. Mereka-lah sampah peradaban.
Harus diakui bahwa bangsa-bangsa barat telah memulai proses moderenisasi dan rasionalisasi lebih awal daripada bangsa-bangsa di timur. Akibatnya, mereka memiliki sejumlah kedewasaan dan pengalaman berlebih dalam menyusun sistem sehingga mampu menghasilkan sejumlah produk budaya seperti teknologi, sains, hingga karya seni. Kedewasaan berlebih tersebut, relatif terhadap timur, mengakibatkan barat secara alamiah menjadi standar dunia, baik itu standar pengetahuan, seni maupun produk-produk budaya lainnya (disadur dari Edwar Said dalam bukunya “Orientalisme”). Kondisi stabil yang berlangsung lama tersebut mengakibatkan lahirnya sebuah pola-pola hubungan superioritas dan inferioritas antara barat-timur (penjajahan paradigma) yang berlangsung secara terus menerus. Jejak-jejak inferioritas tersebut masih kita temui hari ini. Barat dengan segala kebesarannya menjadi patron bangsa-bangsa di Timur.


Parahnya, proses ini justru tertanam kuat dalam kultur akademik di kampus-kampus yang seharusnya menjadi ujung tombak bangsa-bangsa di timur dalam upaya membangun mentalitas yang merdeka. Segala hal dibangun dengan mengacu sang patron. Memang benar bahwa sains tidak mengenal warna bendera. Sains berkembang semata-mata karena akumulasi pengetahuan yang berlandaskan kepada kritik dan metode ilmiah. Dalam ruang ini kita boleh bercermin pada siapa saja yang telah memiliki pengetahuan.

Namun harus diingat bahwa sains hadir untuk menjawab permasalahan di masyarakat. Dari pemahaman ini, universitas sebagai lahan subur perkembangan sains tidaklah lagi menjadi menara gading yang terus menembus langit, tetapi harus menjadi tonggak yang tertanam dalam kultur masyarakat dimana ia berada. Kesadaran inilah yang akan membentuk karakter setiap universitas dan insan akademis yang ada di dalamnya.
Karakter ini yang juga secara tegas ingin ditunjukan oleh para founding father kita. Intelektualitas yang sangat tinggi, yang ditunjukan oleh Soekarno, Hatta, Syahrir, Agus Salim, Tan Malaka, Leimena dan tokoh-tokoh besar lainnya tidak lahir dari pemahaman yang sempit akan makna sains dan perkembangannya. Hatta membaca Adam Smith, Spinoza, Hobbes. Soekarno mengenal baik Voltaire, Locke, maupun Marx. Namun semua itu hanyalah jendela bagi mereka untuk melihat dunia, dan kemudian kembali berpijak pada kondisi riil negeri ini. Karakter kuat sebagai orang indonesia inilah yang selalu melahirkan sebuah gagasan segar yang selalu berpijak dengan kultur dan realita yang ada di Indonesia.


Namun saat ini, di era globalisasi, perdebatan barat dan timur menjadi kabur. Saat ini, teknologi telah memfasilitasi kita untuk menjadi warga dunia. Kita tidak boleh tertinggal dari perkembangan pengetahuan. Namun, tranformasi menjadi bangsa yang besar tidak cukup dengan hanya menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang canggih. Kita perlu karakter dan mental yang merdeka, yang tumbuh dari budaya dan tradisi kita sendiri. Proses ini hanya bisa dimulai dan terjadi di kampus dalam dinamikanya sebagai pusat sains yang kental dengan kultur akademiknya sekaligus sebagai tempat anak-anak muda yang sarat dengan idealisme dan pemikiran-pemikiran yang revolusioner.

Educate, Organize, Transform


Philip G. Altbach menyatakan bahwa peran pemuda dan mahasiswa sebagai agen perubahan sosial dalam masyarakat di negara dunia ketiga sangatlah signifikan. Laju perubahan di negara-negara dunia ketiga sangat terkait dengan seberapa cepat dan dinamis pemuda dan mahasiswa mengeluarkan ide-ide kritis guna mengakselerasi proses perbaikan negaranya. Ia menyatakan bahwa salah satu solusi yang perlu kita lakukan agar terjadi perbaikan di negara dunia ketiga ini adalah dengan membangun gerakan intelektual di negara dunia ketiga yang dipelopori oleh generasi muda.

Yang menjadi pertanyaan di sini adalah gerakan intelektual semacam apa yang dibutuhkan?

1.     Unsur pertama adalah bahwa gerakan tersebut harus dilandasi oleh intelektualitas dan tradisi saintifik. Dengan intelektualitas inilah kaum muda mampu melihat permasalahan dan membangun solusi yang jernih. Tanpa itu, kaum muda hanyalah bagian dari permasalahan itu sendiri. Kuntowijoyo, dalam Budaya dan Masyarakat, menyatakan bahwa: “kondisi sekarang begitu menyedihkan, karena semenjak 1980-an aktivis mahasiswa Indonesia jarang sekali menyitir teori-teori sosial budaya kontemporer yang lebih maju dan lebih luas cakrawalanya”. Kondisi ini begitu mengerikan karena perjuangan demi perubahan yang dilakukan tidak disertai dengan pembelajaran dan penegakkan nilai-nilai intelektual.

 

2.     Unsur kedua adalah multidimensionalitas. Anwar Ibrahim, tokoh reformis Malaysia, dalam bukunya berjudul “Renaissance of Asia” mengungkapkan bahwa pemuda dan mahasiswa yang dibutuhkan adalah yang multidimensional, artinya di samping ia memiliki suatu pendalaman akan ilmu yang digelutinya seperti kedokteran, teknik, dan sebagainya, ia juga harus memiliki penguasaan terhadap filsafat dan kemampuan dialektika, serta senang pada seni, seperti sastra, musik, dan sebagainya. Inilah hakekat multidimensionalitas. Di dalam kemudaannya ia mengisi waktunya dengan berbagai pengayaan diri sehingga ia akan memiliki identitas serta integritas dalam dirinya saat terjun ke dalam masyarakat.
Dua unsur tersebut, intelektualitas dan multidimensionalitas, harus didukung oleh unsur yang sangat penting.

 

3.     Unsur ketiga yaitu semangat untuk melakukan tranformasi.
Di atas ketiga fondasi inilah, gerakan intelektual dibangun. Namun ketiga hal tersebut, belum cukup untuk mendukung lahirnya sebuah perubahan. Diatas fondasi tersebut harus tumbuh “aksi-aksi budaya yang membebaskan” yang terorganisir dengan baik.
Semua bentuk pemikiran sebaiknya mampu ditransformasikan menjadi sebuah gerakan.

Lalu kemanakah gerakan tersebut harus bersandar?

Gerakan intelektual harus berpegang pada satu penggaris utama yang dijadikan acuan yaitu “kebenaran ilmiah”. Penggaris ini sangat khas, ia memiliki perbedaan dengan penggaris publik (demokrasi) atau penggaris kelompok (dogma, ideologi atau pakem tertentu). Latar belakang inilah yang menyebabkan mengapa gerakan intelektual seharusnya menghindari adanya “fanatisme pada sebuah ideologi tunggal”.
Jargon gerakan intelektual sebagai sebuah gerakan moral juga sangat tidak relevan di sini. Moralisme terkait dengan transendentalitas yang berusaha mengembalikan segala sesuatu kepada relativisme perspektif dan interpretasi individu. Gerakan moral membutuhkan sejumlah konsensus ideal yang harus disepakati terlebih dahulu. Hal ini tentu saja sulit untuk dipraktikan dalam masyarakat yang heterogen. Juergen Habermas sendiri pada akhirnya menyerah pada masyarakat komunikasi yang sangat bergantung kepada akseptibilitas diskursus yang berbeda-beda dan berkembang di dalamnya. Gerakan intelektual bukanlah gerakan moral, melainkan sebuah gerakan politik nilai yang berasal dari konsekuensi etis pengetahuan yang dimilikinya. Perlu dijelaskan gerakan intelektual tidak relevan disebut gerakan moral, tetapi tidak erarti gerakan yang tidak memiliki moral. Diskursus gerakan tidak boleh ditumbuhkan dari sebuah ideologi tertentu, ia hanyalah sebuah panggung tempat ideologi-ideologi tersebut bertarung.
Artinya, satu-satunya dasar gerakan intelektual adalah sebuah proses kritik dan perubahan itu sendiri. Hal ini setidaknya fanatisme ideologi harus mati dalam gerakan intelektual.

Penutup
Sejarah menunjukan bahwa sejarah indonesia dimulai dari gerakan orang muda di kampus-kampus. Di tempat itulah para kaum muda, yang penuh dengan energi dan idealisme mengasah intelektualitas dan pemikirannya. Proses tersebut berlangsung secara terus menerus dengan tantangan dan situasi yang berbeda. Setiap generasi tentu mempunyai ciri khas masing-masing. Inilah yang memberi warna sebuah zaman. Namun corak yang cerdas, kritis dan multidimensionalitas adalah tulang punggung yang harus terus ada. Berjuanglah wahai Soekarno-Soekarno muda.

Bung, diam adalah dosa.

Siapapun yang tidak bergetar hatinya melihat ketidakadilan, ia bukan saudaraku. Kalau hatimu tidak bergetar melihat seseorang mengaisngais makanan dari tempat sampah untuk dimakannya, maka, yah maka kau tak pantas disebut manusia! Tanyakan ke lubuk dalam hatimu , apakah engkau siap untuk bersaudara dengan kami?

-Institut sosial humaniora tiang bendera itb-

2 Responses to "Dari pikiran ke tindakan"

Pak, tulisan ini sangat bagus dan menginspirasi. ijin saya print ya pak. boleh ya pak? saya mau tempel di kamar. hehh
Saya dari tadi sampai berulang-ulang membacanya.
Ditempel di papan pengumuman dong pak, biar temen2 yang lain bisa baca dan pasti banyak manfaatnya.
Atau nanti mungkin bisa jadi membuat kumpulan siswa yang klub baca dan menulis ato jurnalisme spt kata temen saya anak SMAN 3 Bandung, sekolah mereka banyak komunitas kegiatan pak, jadi bebas meluangkan hobinya. ada paskibra, ada jurnalis, ada PKS, ada pecinta alam, tapi tetap juga gak lupa ama prioritas utama belajar.
Tapi tulisan ini benar-benar cerdas, kritis, nasioalisme, serta dilihat dari tulisannya organisasi ini adalah anggota-anggota “Netral” tidak sempit pemikirannya. Lambangnya juga sangat keren, seperti jaring laba-laba, kemungkinan artinya bahwa kita tidak dapat hidup dari sekitar kita (orang lain), Kesan saya pertama melihat lambangnya aja sudah takjub, Pasti ada makna mendalam dibalik lambangnya. ada beberapa orang (manusia) sengaja dibuat warna yang berlainan kuning, ijo, merah dll, lalu ada tali yang menghubungkan, yang semuanya dibuat dalam satu lingkaran (mungkin artinya bumi atau dunia).

Dan sepertinya anggota2nya muda-mudi yang sudah jarang kita temui seperti kebanyakan saat ini (mabuk, nonton, hedon-hedon). bahkan juga disekolah kita siswa-siswa sudah mulai kecendrungan bersifat hedon2, dan mencari jalan simpel (mencontek, mengcopy dll)
Andai saja para pengajar (guru sejarah, PPKN) dapat melakukan pengajarnnya lebih menarik seperti ini akan memperoleh hasil yang jauh lebih baik.
Mungkin ngajar mata pelajaran sejarah, PPKN disekolah kita dapat sesekali disisipi “seperti seminar”, memanggil kakak-kakak kita itu, atau tokoh2.. pengarang laskar pelangi, atau bisa juga Yohannes surya, pasti sangat Benar-benar bermanfaat, menginspirasi mungkin acaranya cukup sekali setahun, dan dibagi per angkatan.
Bacaan ini benar, benar bagus salut, cerdas.
Saya menjadi jauh lebih semangat belajar. Sains (Ilmu pasti), dan pastinya tahu kemana arah tujuan ilmu itu kita pelajari.
semoga semakin banyak motivasi di sekolah kita.
SMAN I Bekasi. jaya.. jayalah :)

@dear Anggala

Silahkan diprint. Tulisan ini justru dimaksudkan untuk menambah wawasan dan memperluas cakrawala pemikiran bahwa dengan hanya menggali ilmu tidaklah cukup tapi harus diikuti dengan character building.

Leave a Reply